Pentingnya Melibatkan Generasi Muda dalam Kepengurusan Trah Keluarga

Banyak paguyuban silsilah keluarga (Trah) di Indonesia yang akhirnya layu sebelum berkembang atau perlahan-lahan bubar tanpa kepastian. Salah satu penyebab utamanya adalah kegagalan para sesepuh atau pendiri paguyuban dalam melakukan estafet kepemimpinan (regenerasi) kepada generasi muda.

Sering kali, kepengurusan trah—mulai dari posisi ketua, sekretaris, hingga bendahara arisan—hanya dipegang oleh kalangan generasi pertama atau kedua yang usianya sudah lanjut. Ketika para sesepuh ini berhalangan hadir atau berpulang, paguyuban menjadi kehilangan arah karena tidak ada satupun anak muda yang siap atau mengerti cara meneruskan tampuk pengelolaan keluarga besar tersebut.

Mengapa Anak Muda Terkesan Apatis?

Kesan bahwa generasi muda tidak peduli (apatis) terhadap sejarah keluarga sebenarnya kurang tepat. Sering kali, mereka bukan tidak peduli, melainkan tidak pernah diberi kepercayaan atau merasa suara mereka tidak didengarkan dalam musyawarah keluarga yang didominasi oleh aturan-aturan kaku.

Strategi Melibatkan Generasi Muda (Gen Z & Milenial)

Menyelamatkan sejarah keluarga bukan sekadar tugas mengarsipkan nama orang-orang yang sudah meninggal, melainkan tugas mendidik orang-orang yang masih hidup agar mau merawat ingatan tersebut. Melibatkan generasi muda sejak dini adalah investasi terbaik bagi kelestarian Trah keluarga Anda.