Pentingnya Melibatkan Generasi Muda dalam Kepengurusan Trah Keluarga
Banyak paguyuban silsilah keluarga (Trah) di Indonesia yang akhirnya layu sebelum berkembang atau perlahan-lahan bubar tanpa kepastian. Salah satu penyebab utamanya adalah kegagalan para sesepuh atau pendiri paguyuban dalam melakukan estafet kepemimpinan (regenerasi) kepada generasi muda.
Sering kali, kepengurusan trah—mulai dari posisi ketua, sekretaris, hingga bendahara arisan—hanya dipegang oleh kalangan generasi pertama atau kedua yang usianya sudah lanjut. Ketika para sesepuh ini berhalangan hadir atau berpulang, paguyuban menjadi kehilangan arah karena tidak ada satupun anak muda yang siap atau mengerti cara meneruskan tampuk pengelolaan keluarga besar tersebut.
Mengapa Anak Muda Terkesan Apatis?
Kesan bahwa generasi muda tidak peduli (apatis) terhadap sejarah keluarga sebenarnya kurang tepat. Sering kali, mereka bukan tidak peduli, melainkan tidak pernah diberi kepercayaan atau merasa suara mereka tidak didengarkan dalam musyawarah keluarga yang didominasi oleh aturan-aturan kaku.
Strategi Melibatkan Generasi Muda (Gen Z & Milenial)
- Bentuk Divisi Teknologi & Dokumentasi Digital: Ini adalah cara paling natural untuk menarik minat anak muda. Serahkan tugas pembuatan grup WhatsApp, pembuatan desain logo keluarga, hingga pengelolaan website silsilah seperti Trah SSW Portal kepada mereka yang memang *tech-savvy* (melek teknologi).
- Lakukan Pendekatan Mentoring, Bukan Menggurui: Saat menunjuk anak muda sebagai panitia acara keluarga, jangan dilepas begitu saja atau sebaliknya, terlalu banyak didikte. Sesepuh harus memposisikan diri sebagai penasihat (mentor) yang membimbing di belakang layar, membiarkan pemuda mengeksekusi acara dengan gaya dinamis mereka sendiri.
- Serahkan Tongkat Kepemimpinan Secara Bertahap: Mulailah dengan menunjuk pemuda usia 20-an atau 30-an sebagai wakil ketua paguyuban atau ketua pelaksana arisan tahunan. Dengan begitu, mereka bisa mulai belajar memahami dinamika psikologis antar-cabang keluarga sebelum nantinya benar-benar memimpin penuh paguyuban trah.
Menyelamatkan sejarah keluarga bukan sekadar tugas mengarsipkan nama orang-orang yang sudah meninggal, melainkan tugas mendidik orang-orang yang masih hidup agar mau merawat ingatan tersebut. Melibatkan generasi muda sejak dini adalah investasi terbaik bagi kelestarian Trah keluarga Anda.